
Maraknya film Indonesia bergenre hantu dan drama remaja, ternyata mengundang keprihatinan aktor senior Deddy Mizwar.
Aktor, produser sekaligus sutradara film Nagabonar Jadi 2 ini mengatakan, begitu banyak keragaman persoalan sosial di Indonesia yang bisa diangkat dan dijadikan tema film, selain hantu dan drama remaja.
Menurut peraih penghargaan Sutradara Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2007 ini, masyarakat akan bosan dan jenuh dicekoki film bergenre hantu dan drama remaja.
"Ada anak gantung diri karena masalah sepele, ada orang saling menghujat antargolongan, ada kecurigaan yang berlangsung, ada beras yang tidak sampai ke penduduk miskin, ada gagal panen yang memperparah keadaan, jadi begitu banyak hal yang bisa diangkat dalam film. Saya kira kalau kita mau menggali dan terus menggali akan banyak hal yang bisa kita angkat. Bukan hanya persoalan hantu di negeri ini," paparnya sembari memberikan alternatif tema film saat ditemui belum lama ini.
Lebih lanjut, pria kelahiran Jakarta, 5 Maret 1955 ini menambahkan, maraknya film bergenre hantu, horor, mistis dan sejenisnya, lantaran adanya stigmatisasi dari sang sineas. Sehingga sebanyak mungkin dibuat film dengan tema-tema serupa untuk alasan mendongkrak kesuksesan sebuah film. "Stigma kalau bukan hantu maka tidak laku, kalau bukan film remaja maka tidak ada yang menonton. Itu bohong semua. Stigma itu diciptakan sendiri oleh orang film, bukan oleh masyarakat. Diperlukan kesadaran masing-masing, karena saya tidak bisa mencampuri ruang kreatif orang. Persoalannya, kita harus tanyakan pada diri sendiri, kita membuat film untuk apa. Sebab setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda-beda," terang suami dari Giselawati Wiranagara dan ayah dari Senandung Nacita dan Zulfikar Rakita Dewa ini.