
Bagi Rano Karno, mengoleksi mobil tua bukan sekadar hobi. Tapi bisa juga mendatangkan inspirasi. "Karena pasti akan ada kepentingan dengan beberapa cerita yang saya persiapkan. Mau tidak mau dari situ cerita bisa juga berkembang," ujar pria kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1960 ini.
Mengoleksi mobil tua sebetulnya impian Rano sejak dulu. "Waktu tahun 1976 saya pernah nonton film ‘Italian Job’. Di situ saya lihat mobil merek Mini Coper. Wah, kapan ya, saya punya mobil kayak gitu," ucap Rano. Bila baru sekarang ia bisa mewujudkannya, dikarenakan baru sekaranglah ia punya kesempatan. "Dulu mungkin saya belum mampu. Sekarang ini alhamdulillah, rezekinya ada. Selain itu, waktunya tidak terlalu sibuk," kata peraih Citra pada FFI 1990 lewat film ‘Taksi’ ini.
Memang kini setelah sinetron ‘Si Doel’ telah habis masa tayangnya, ia lebih banyak meluangkan waktu kosongnya bersama mobil-mobil tua.
Koleksi pertamanya adalah oplet keluaran tahun 1948 yang ia pakai untuk syuting sinetron ‘Si Doel’. Waktu oplet tersebut dibelinya sekitar tahun 1993, kondisinya cukup lumayan. "Kekuatan mesinnya agak besaran dikit. Karena di atas oplet juga ditaruh kamera," jelas Rano.
Setelah itu, koleksi mobil tuanya bertambah. "Saya beli mobil tua merek Plamot keluaran 1950 dan Chevrolet keluaran 1948. Masih berupa bangkai. Bayangin aja, waktu saya beli Plamot, itu mobil jadi kandang ayam. Coba, siapa yang mau beli kandang ayam seharga Rp 3,5 juta," kata pemain film ‘Tom & Jerry’, ‘Musim Bercinta’, ‘Gita Cinta dari SMA’, ‘Romi & Yuli’, ‘Wajah Tiga Perempuan’, dan ‘Suci Sang Primadona’ ini.
Untuk memperoleh mobil tua itu, disamping mencari sendiri terkadang ia peroleh dari teman-temannya. "Kebanyakan sih, menghubungi saya langsung atau tiba-tiba kirim fotonya. Mungkin mereka tahu saya suka mengumpulkan mobil tua dari koran atau tabloid," ujar Rano.
"Kayak Chevrolet keluaran tahun 1929 yang saya dapat dari Bangka. Itu kan yang menghubungi mereka langsung," ujar dari 2 anak ini.
Ada pengalaman unik sewaktu Rano umrah ke Mekkah tahun 1997. "Waktu pulang orang-orang heran, kok saya bawa pelek dan ban. Itu saya beli di Arab untuk mobil Plamot. Soalnya di sini enggak ada," jelas Rano.
Rano juga punya bengkel sendiri. Di samping itu, ia merancang sendiri mobil-mobilnya. "Karena saya berpikir mobil ini nantinya bakal dipakai untuk sinetron-sinetron saya berikutnya," papar putra aktor Soekarno M. Noer (alm.) ini.
Tak sedikit juga dari teman-temannya yang mempercayakan renovasi mobil tuanya ke Rano. "Kayak Purwacaraka. Ia ingin mobil tuanya itu diperbaiki sama saya. Saya sih, oke aja," urainya.
Yang membuatnya senang lagi karena impiannya memiliki mobil Mercy kentang dan Mini Coper keluaran tahun 1976 yang ia lihat di film sudah dimilikinya. " Padahal harganya Rp 30 juta," jelas Rano.
Lantas, berapa biaya yang ia keluarkan? "Mengenai harga, nah susah. Dibilang murah, jangan dipikir murah. Yang paling mahal seperti ban, pelek, dan AC. Tapi kan kita bisa bikin standar. Misalnya, satu mobil kita targetkan habisnya Rp 50 juta, enggak lebih," ujar Rano.
Bagi Rano, mengendarai mobil tua juga mempunyai kebanggaan tersendiri. "Memang lain, lho. Dibanding misalnya kita naik Mercy. Kalau kita naik mobil tua, pasti akan dilihat. Ini pernah saya alami waktu saya ke supermarket naik mobil Vargo keluaran tahun 1952. Enggak tahunya ada yang ngejar saya pakai Mercy. Dia bilang, jangan sampai saya jual. Kalau mau dijual, lebih baik tukar sama Mercy dia. Saya jawab, 'Enggak, Pak, mobil ini enggak akan saya jual," kata Rano sambil tertawa.
Berarti pernah ditawar, dong? "Bukannya pernah lagi. Malah beberapa kali pernah ditawar dan ditukar dengan mobil lain yang mungkin harganya lebih mahal," ujarnya yang baru saja menambah koleksinya berupa mobil Viat kantong.